Uskup Agung Semarang Resmikan Gereja Universitas Gadjah Mada

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko meresmikan Gereja St Athanasius Agung di kawasan Kerohanian Universitas Gadjah Mada.

Ini menjadi momen penting karena setelah menunggu selama 40 tahun, Gereja Kampus UGM pun berdiri dan bisa digunakan untuk beribadah.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko secara pribadi mengaku bahagia karena Gereja di Kampus UGM terlihat megah dan indah seperti mall yang terwujud setelah menunggu selama 40 tahun.

Ia mengatakan immpian untuk memiliki gereja di kampus tersebut sudah 40 tahun yang lalu. Saat itu dirinya menjadi imam muda dan selalu yang dimunculkan adalah diberi tempat untuk pembinaan imam.

Saat Rektor UGM memberi lampu hijau dan ketika sudah peletakan batu pertama, selalu ada informasi dari Romo Maradiyo dan para dosen tentang perkembangan pembangunan gereja.

Menurutnya, setelah impian selama 40 tahunt tersebut terwujud, ia mengaku sangat bersuka cita dan bahagia. Ia pun tersenyum dan menjelaskan betapa pentingnya memiliki gereja sampai-sampai menunggu selama 40 tahun.

Menurutnya, dari refleksi yang muncul dari dosen adalah eksistensi atau keberadaan jemaat, coock dengan UGM sebagai universitas yang menjunjung tinggi Pancasila.

Keberadaan tempat ibadah ini menempatkan pengakuan terhadap komunitas Kristiani. Menjadi tempat untuk bertemu dengan Tuhan yang dipuji, dan pertemuan sesama jemaat. Merasakan eksistensi di gereja tersebut.

Meski bisa bertemu Tuhan di mana saja, berdoa tanpa terikat tempat, menurut Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dengan adanya gereja menjadi ada kepastian.

Di gereja bisa bertemu dengna Tuhan, keberadaan tabernakel pertanda Tuhan hadir bersama jemaat. Gereja menjadi tempat pertemuan yang cocok dengan bacaan Injil.

Gereja juga diberi sarana dan kemungkinan dan kewenangan melayani umat, akan dirayakan berbagai kegiatan liturgi, ibadat untuk merayakan keselamatan, sehingga gereja menjadi sangat penting di UGM.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko juga menyoroti pentingnya peran Gereja dalam menciptakan lingkungan akademik yang seimbang, di mana iman dan akal budi dapat tumbuh bersama.

Ia mengatakan bahwa keberadaan gereja di tengah-tengah kampus merupakan simbol dari integrasi antara kehidupan rohani dan kegiatan intelektual.

Menurutnya, saat ini banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para mahasiswa dalam menjaga iman dan spiritualitas mereka di tengah kesibukan akademik.

Keberadaan Gereja St Athanasius Agung ini diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan dan penguatan bagi para mahasiswa UGM dalam mempertahankan nilai-nilai agama mereka.

Beliau juga menambahkan bahwa Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan moral bagi seluruh warga kampus.

Ia berharap Gereja ini tidak hanya menjadi tempat untuk berdoa, tetapi juga sebagai tempat untuk belajar, bertumbuh, dan saling mendukung dalam perjalanan spiritual jemaat.

Gereja St Athanasius Agung sendiri didesain dengan konsep arsitektur yang modern namun tetap memperhatikan unsur-unsur tradisional Gereja Katolik.

Dengan kapasitas besar, gereja ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti ruang pertemuan, ruang katekisasi, dan perpustakaan rohani.

Selain itu, kehadiran Gereja St Athanasius Agung di Universitas Gadjah Mada juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antarumat beragama dalam lingkungan kampus.

Pihaknya ingin gereja ini menjadi tempat yang ramah bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang atau keyakinan agama. Semua orang diundang untuk datang, beribadah, dan mempererat tali persaudaraan di gereja tersebut.

Dengan diresmikannya Gereja St Athanasius Agung ini, diharapkan akan memberikan dampak positif yang besar bagi seluruh komunitas kampus, baik dari segi spiritual maupun sosial.

Gereja ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga merupakan simbol dari semangat persatuan dan kerukunan di tengah-tengah perbedaan.

Tinggalkan komentar