Pimpinan Gereja Ortodoks Yunani Kagumi Toleransi Indonesia

Solo, Jawa Tengah – Dalam sebuah peristiwa yang langka, Metropolitan Photios of Demetrios, pemimpin tertinggi gereja Yunani, mengunjungi Kota Solo, didampingi oleh Episkop Daniel dari Nikhopolis, salah satu pimpinan tinggi gereja di Indonesia.

Kehadiran mereka di Indonesia tidak hanya menciptakan momen sakral dalam sejarah Gereja Ortodoks Indonesia Parokia Tritunggal Mahakudus Solo, tetapi juga menyoroti nilai-nilai toleransi agama yang tinggi di tengah masyarakat Indonesia.

Kedatangan Metropolitan Photios dan Episkop Daniel menjadi bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antara Gereja Ortodoks Yunani dan Indonesia.

Kunjungan ini menandai sebuah kesempatan langka, mengingat Metropolitan Photios memiliki kedudukan yang sangat jauh di Yunani. Para pemimpin gereja ini tiba di Bandara Adi Sumarmo, Solo, dan segera melanjutkan agenda mereka yang padat.

Rangkaian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Rumah Doa St. Barbara di Salatiga, di mana Metropolitan Photios melaksanakan upacara konsekrasi atau pensucian.

Keberadaan mereka disambut dengan hangat oleh jemaat setempat, yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Perpaduan antara kekayaan budaya Yunani dan kehangatan masyarakat Indonesia terasa begitu harmonis dalam momen tersebut.

Kemudian, Metropolitan Photios melanjutkan perjalanan ke Gereja Ortodoks Indonesia Parokia Tritunggal Mahakudus Solo. Romo Alexios, yang bertugas di gereja tersebut, bersama sejumlah jemaat, menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan.

Anak-anak dari Hana’arim Parokia Tritunggal Mahakudus menyajikan paduan suara yang memukau, menciptakan atmosfer sakral yang memperkuat kehadiran pemimpin gereja Yunani tersebut.

Baca Juga:  Uskup Maumere Pimpin Misa Peresmian Gereja Lekebai

Tentu saja kunjungan Metropolitan Photios menjadi magnet bagi jemaat, mengingat langkanya kunjungan seorang pemimpin gereja dari Yunani ke Indonesia.

Episkop Daniel, sebagai perwakilan Gereja Ortodoks Indonesia Parokia Tritunggal Mahakudus Solo, berbicara tentang sejarah unik gereja tersebut. Awalnya, gereja ini memiliki desain kubah mirip dengan masjid, menunjukkan akar budaya Timur Tengah yang kuat.

Dengan berjalannya waktu dan penyesuaian akulturasi budaya Indonesia, bentuk bangunan gereja mengalami perubahan.

Episkop Daniel memberikan apresiasi atas kemampuan gereja untuk terus eksis dan berkembang dalam lingkungan yang terus berubah. Dia menekankan betapa pentingnya adaptasi terhadap keberagaman budaya di Indonesia untuk menjaga keberlanjutan gereja.

Episkop Daniel juga memberikan pengumuman gembira. Dalam waktu dekat, akan didirikan biara Ortodoks Indonesia di Gunung Salak, Bogor.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi pusat pembelajaran bagi mereka yang tertarik memahami lebih dalam ajaran Ortodoks, tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke Yunani. Ini tentu merupakan tonggak sejarah baru bagi Gereja Ortodoks Indonesia, yang semakin memperkuat keberadaannya di tanah air.

Gereja Tritunggal Mahakudus Solo memiliki peran kunci sebagai cikal bakal gereja Ortodoks pertama di Indonesia, yang diperkenalkan oleh Episkop Daniel dan Nikhopolis.

Romo Alexios, dengan penuh kebanggaan, mengungkapkan betapa terkesannya atas sambutan hangat yang diberikan oleh jemaat. Menurutnya, hal ini mencerminkan kondisi Solo yang kondusif dan toleran, di mana Gereja Ortodoks dapat tumbuh dan berkembang dalam iklim yang mendukung, di tengah keragaman budaya.

Baca Juga:  Bahagianya Istri Gus Dur Saat Bukber di Gereja

Romo Alexios juga memberikan apresiasi terhadap kondisi sosial Solo yang mampu menciptakan keharmonisan di tengah-tengah perbedaan. Ia menilai bahwa kondisi ini turut berkontribusi positif terhadap pertumbuhan Gereja Ortodoks di dalam lingkungan yang baik dan iklim yang terjaga di tengah keragaman budaya.

Dalam konteks yang lebih luas, kunjungan Metropolitan Photios dan Episkop Daniel tidak hanya menjadi sebuah acara gerejawi, tetapi juga merupakansatu kesempatan emas untuk memperkuat dialog antaragama.

Indonesia, dengan keberagaman agama dan budaya yang dimilikinya, dapat memetik manfaat dari pertukaran nilai-nilai spiritual dan toleransi yang diperkenalkan oleh Gereja Ortodoks.

Sebagai langkah lanjutan, diharapkan kunjungan ini dapat menjadi titik awal untuk membangun jembatan yang lebih kokoh antara Gereja Ortodoks di Yunani dan Indonesia.

Hal ini akan membuka pintu bagi pertukaran lebih lanjut, baik dalam hal kebudayaan maupun nilai-nilai keagamaan, yang pada gilirannya akan memperkaya keragaman budaya di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, harapan untuk melihat lebih banyak pertukaran budaya dan spiritual antara Yunani dan Indonesia menjadi semakin nyata. Kunjungan ini tidak hanya merayakan keberagaman dan toleransi di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dalam kehidupan beragama di dunia yang terus berubah ini.

Tinggalkan komentar