Ini Dia Profil Gereja Chora yang Diubah Erdogan Menjadi Masjid

Pada tanggal 6 Mei 2024, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, secara resmi membuka kembali Gereja Chora di Istanbul sebagai masjid setelah melalui proses restorasi yang intensif.

Perubahan fungsi ini bukanlah hal baru dalam sejarah bangunan tersebut, mengingat Gereja Chora telah mengalami berbagai perubahan fungsi sejak didirikan pada abad ke-4.

Gereja Chora, juga dikenal sebagai Gereja Juru Selamat Kudus di Chora, memiliki sejarah panjang yang penuh dengan transformasi.

Awalnya dibangun sebagai kompleks biara di luar tembok Kota Konstantinopel, gereja ini dinamai Chora yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘kota’, merujuk pada lokasinya yang dulu berada di pedesaan pinggiran kota.

Pada abad ke-5, ketika tembok-tembok baru dibangun di sekitar Konstantinopel, Gereja Chora menjadi bagian dari pertahanan kota.

Pada abad ke-11, gereja ini dibangun kembali oleh Maria Doukaina, mertua dari Alexius I Comneus, Kaisar Bizantium. Bangunan baru tersebut berbentuk salib, mencerminkan gaya arsitektur gereja-gereja Bizantium pada masa itu.

Gereja Chora mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi pada awal abad ke-12, yang menyebabkan sebagian bangunan runtuh. Proses rekonstruksi berlangsung hampir dua abad dan menghasilkan konstruksi yang kita kenal saat ini.

Selama masa rekonstruksi ini, gereja dihiasi dengan lukisan dinding dan mosaik yang sangat indah, yang kemudian menjadi salah satu ciri khas dan daya tarik utamanya.

Baca Juga:  Inilah 10 Negara dengan Penduduk Kristen Terbanyak di Dunia

Sebagian besar mosaik yang menghiasi Gereja Chora diciptakan oleh Theodore Metokhites, seorang menteri keuangan dan penyair terkenal pada masa itu.

Metokhites mendedikasikan gereja ini untuk Bunda Maria, dan di dalam gereja terdapat potret dirinya yang mempersembahkan gereja kepada Kristus di atas pintu masuk ruang depan.

Mosaik-mosaik ini menggambarkan berbagai kisah dari kehidupan Yesus dan Bunda Maria, dengan detail dan keindahan yang mencerminkan seni Bizantium terbaik.

Di dalam Gereja Chora, terdapat dua kubah besar yang masing-masing menggambarkan silsilah Perawan Maria dan Kristus.

Maria digambarkan sedang menggendong Kristus sebagai bayi, sementara Kristus digambarkan sebagai Kristus Pantokrator, yaitu penguasa segala hal.

Di narthex luar, Perawan Maria digambarkan dengan Yesus yang masih dalam kandungannya, mencerminkan makna religius yang mendalam bagi para pengunjung.

Dekorasi Bizantium di Gereja Chora tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga menyampaikan pesan religius yang mendalam.

Mosaik-mosaik ini bukan hanya karya seni, tetapi juga alat untuk mendidik dan menginspirasi umat Kristen tentang kisah-kisah dari Injil dan kehidupan para orang kudus.

Gereja Chora sempat berfungsi sebagai museum sejak tahun 1945, sebelum akhirnya pada tahun 2020, Presiden Erdogan menandatangani perintah untuk mengubahnya menjadi masjid.

Keputusan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh pemerintah Turki untuk mengembalikan fungsi beberapa bangunan bersejarah sebagai masjid, termasuk Hagia Sophia yang juga diubah kembali menjadi masjid pada tahun 2020.

Baca Juga:  Gereja Kristen Toraja Jadi Tuan Rumah Sidang Raya PGI XVIII

Perubahan fungsi Gereja Chora menjadi masjid memicu berbagai reaksi. Bagi sebagian masyarakat Turki dan komunitas internasional, keputusan ini dianggap sebagai langkah simbolis yang menggambarkan kebangkitan identitas Islam di Turki.

Namun, bagi yang lain, terutama komunitas Kristen dan para sejarawan seni, perubahan ini dianggap sebagai kehilangan nilai sejarah dan budaya yang signifikan.

Setelah melalui proses restorasi yang intensif, Gereja Chora dibuka kembali sebagai masjid pada 6 Mei 2024. Pembukaan ini dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi dan tokoh masyarakat.

Restorasi tersebut tidak hanya melibatkan perbaikan struktur bangunan, tetapi juga upaya untuk melestarikan mosaik-mosaik Bizantium yang ada di dalamnya.

Masa depan Gereja Chora sebagai masjid menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana warisan budaya dan sejarahnya akan dipertahankan.

Meski kini berfungsi sebagai tempat ibadah umat Muslim, banyak yang berharap bahwa keindahan artistik dan sejarah gereja ini tetap bisa dinikmati dan dihargai oleh semua orang, terlepas dari latar belakang agama mereka.

Gereja Chora adalah contoh nyata bagaimana bangunan bersejarah dapat berubah fungsi seiring dengan perubahan zaman dan konteks politik. Namun, keindahan dan nilai historisnya tetap menjadi warisan yang berharga bagi umat manusia.

Tinggalkan komentar