Ibu-ibu Gereja Bantu Korban Banjir Kudus Siapkan Menu Berbuka dan Sahur

Di tengah cobaan banjir yang melanda Kabupaten Kudus, cerita kebersamaan dan gotong royong terus mengalir. Kali ini, sebuah kisah inspiratif datang dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) di Tanjung Karang, Kudus.

Di sana, sejumlah ibu-ibu gereja bergandengan tangan untuk memberikan bantuan berbuka puasa dan sahur kepada para pengungsi korban banjir.

Bencana banjir telah membuat banyak warga Kudus terdampar dan kehilangan tempat tinggal mereka. Dalam situasi darurat seperti ini, solidaritas lintas agama menjadi pilar kekuatan bagi masyarakat yang terdampak.

Salah satu tempat pengungsian yang menyediakan perlindungan dan bantuan bagi para korban banjir adalah GKMI Tanjung Karang. Di sinilah kebersamaan dan semangat gotong royong benar-benar terasa.

Di posko GKMI, sebanyak 89 pengungsi banjir menemukan tempat berlindung, di antaranya banyak yang berasal dari Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Mayoritas dari mereka adalah umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Melihat kondisi tersebut, Pendeta GKMI, Hendra Wijaya, dan jemaatnya merasa tergerak untuk memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan.

Mereka melihat bahwa banyak dari saudara-saudara yang mengalami kesulitan di saat seperti ini. Oleh karena itu, pihaknya sebagai pihak gereja ingin turut serta membantu mereka, terlebih lagi dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Dalam semangat toleransi dan saling menghormati antarumat beragama, para ibu gereja menyediakan dapur dan bahan makanan bagi para pengungsi. Mereka dengan sukarela memasak dan menyiapkan sajian untuk berbuka puasa dan sahur.

Apa yang mereka lakukan bukanlah hanya sekadar memberikan makanan, tetapi juga sebuah bentuk kasih sayang dan kepedulian kepada sesama manusia yang sedang mengalami kesulitan.

Pihak Gereja juga tidak melihat perbedaan agama dalam memberikan bantuan, yang dilihat adalah kesempatan untuk berbagi dan membantu.

Tidak hanya bagi para pengungsi Muslim, tetapi juga bagi mereka yang bukan beragama Islam atau bahkan ibu hamil, GKMI Tanjung Karang tetap membuka pintu hatinya. Mereka juga menyediakan makanan pagi dan siang untuk memastikan kesehatan dan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.

Menurut Pendeta Hendra, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari misi sosial gereja dalam melayani dan membantu sesama, terlepas dari latar belakang agama atau suku.

GKMI Tanjung Karang telah menjadi tempat pengungsian bagi masyarakat Kudus yang terdampak bencana selama bertahun-tahun.

Pendeta Hendra juga percaya bahwa solidaritas dan kepedulian adalah nilai-nilai yang harus terus dijunjung tinggi dalam setiap situasi.

Selama berada di posko pengungsian GKMI, atmosfer kebersamaan dan persaudaraan begitu kental terasa. Para pengungsi tidak hanya menerima bantuan materi, tetapi juga mendapat dukungan moral dan semangat dari para relawan dan pendeta gereja.

Mereka tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga memberikan para pengungsi di sana harapan dan kekuatan untuk tetap bertahan di tengah cobaan ini.

Para pengungsi pun merasa sangat bersyukur atas bantuan dan dukungan yang mereka terima. Aksi solidaritas lintas agama ini juga mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagai pihak.

Banyak yang menyebutnya sebagai contoh nyata dari semangat gotong royong yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat. Banyak pengungsi yang sangat terharu melihat aksi solidaritas ini.

Ini membuktikan bahwa di tengah bencana pun, semua pihak masih bisa bersatu dan saling membantu tanpa melihat perbedaan agama atau suku. Semangat kebersamaan seperti ini adalah kunci untuk bangkit dari cobaan yang menimpa.

Dengan adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, diharapkan para pengungsi dapat melewati masa sulit ini dengan lebih ringan.

Aksi kebaikan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan di tengah perbedaan, mengingatkan semua bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama dalam menghadapi segala cobaan.

Tinggalkan komentar