Gereja Katolik di Tanah Papua akan Rayakan 130 Tahun Misi Katolik

Gereja Katolik di Tanah Papua tengah bersiap untuk merayakan 130 tahun kehadirannya, menandai pertumbuhan dan perkembangan sejak misi pertama yang dipimpin oleh pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ, di kampung Sekru, Fakfak, Papua Barat pada 22 Mei 1894.

Perayaan ini bukan hanya tentang refleksi sejarah, tetapi juga momentum untuk memperkuat fondasi Gereja Katolik di wilayah Papua. Perayaan tersebut akan dimulai dengan misi apostolik yang akan diterima oleh masyarakat asli Papua.

Penerimaan ini dianggap sebagai simbol penting dari hubungan antara Gereja dan komunitas setempat, serta sebagai landasan kuat bagi keberlanjutan misi Katolik di Papua.

Ketua Tim Kerja Dapur Harapan, Yan Ukago, mengungkapkan bahwa Cornelis Le Cocq d’Armandville memainkan peran vital dalam mendirikan misi Katolik di Papua.

Meskipun misi awal tersebut hanya berlangsung singkat karena Cornelis meninggal dunia di Mimika Barat pada tahun 1896, warisannya menjadi pijakan penting bagi perkembangan misi Katolik selanjutnya di Tanah Papua.

Pada tahun 1904, Misionaris Hati Kudus (MSC) mulai hadir di Papua dengan kedatangan pastor Mathias Neijens, MSC pada bulan April, diikuti oleh empat misionaris lainnya pada 14 Agustus 1904.

Keuskupan Agung Merauke menetapkan tanggal 14 Agustus sebagai Hari Misi Katolik, untuk menghormati peristiwa bersejarah ini. Pada tahun 2023, Penjabat Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, menetapkan Hari Pekabaran Injil di Provinsi Papua Selatan sebagai langkah penting untuk merawat ingatan sejarah misi Katolik di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Krisdayanti Ungkap Alasan Bangun Gereja di Tanah Kelahirannya Malang

Yan Ukago menjelaskan bahwa Dapur Harapan sejak tahun 2020 telah aktif mendorong para pimpinan Hirarki Gereja Katolik dan pemerintah daerah untuk menetapkan Hari Misi Katolik di Tanah Papua.

Usaha ini bertujuan agar sejarah penting ini tetap diingat dan dirayakan oleh umat Katolik di Papua, meskipun ia tidak berharap hari perayaan ini menjadi hari libur umum.

Menurutnya, cukup jika hari tersebut diatur sebagai kebijakan internal yang memungkinkan umat Katolik di Papua untuk memperingatinya dengan khidmat.

Ukago juga menekankan pentingnya integrasi sejarah Misi Katolik di Tanah Papua ke dalam sistem pendidikan Katolik di masa yang akan datang.

Ia berharap bahwa pelajaran tentang sejarah ini dapat diterapkan di sekolah atau kampus Katolik di Papua, sehingga generasi muda Katolik dapat memahami dan menghargai perjalanan panjang iman mereka.

Sejarah misi Katolik di Papua tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan kultural di wilayah ini. Kehadiran misionaris membawa perubahan signifikan dalam pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat Papua.

Pada awal abad ke-20, misionaris Katolik berperan dalam mendirikan sekolah dan pusat kesehatan di berbagai daerah di Papua. Ini menjadi fondasi bagi perkembangan pendidikan dan layanan kesehatan di wilayah tersebut.

Selain itu, misionaris juga aktif dalam mempelajari dan menghormati budaya lokal, serta berusaha untuk menyesuaikan ajaran agama dengan konteks budaya setempat.

Baca Juga:  Gereja Berdampingan dengan Masjid Jadi Warna Toleransi di Siantar

Meskipun telah banyak kemajuan yang dicapai, misi Katolik di Papua juga menghadapi berbagai tantangan. Kondisi geografis yang sulit, akses yang terbatas ke beberapa daerah terpencil, serta tantangan sosial dan politik di Papua menjadi beberapa hambatan yang harus dihadapi oleh para misionaris dan komunitas Katolik.

Namun demikian, dengan semangat dan dedikasi yang kuat, Gereja Katolik di Papua terus berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik bagi umatnya.

Perayaan 130 tahun misi Katolik ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen tersebut dan untuk merencanakan langkah-langkah strategis ke depan.

Yan Ukago dan Tim Kerja Dapur Harapan berharap bahwa dengan perayaan ini, sejarah panjang dan kontribusi penting misi Katolik di Papua dapat lebih diakui dan dihargai.

Mereka juga berharap agar generasi muda Katolik di Papua dapat terus melanjutkan perjuangan dan semangat para pendahulu mereka dalam menghadirkan kasih dan pelayanan Kristus di tengah masyarakat Papua.

Perayaan 130 tahun misi Katolik di Tanah Papua bukan hanya sebuah perayaan sejarah, tetapi juga refleksi dari perjalanan panjang iman dan dedikasi para misionaris serta umat Katolik di Papua.

Dengan menelusuri jejak sejarah ini, Gereja Katolik di Papua diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat Papua, serta memperkuat ikatan spiritual dan kultural yang telah terbina selama lebih dari satu abad.

Baca Juga:  Gereja Blenduk Semarang, Salah satu Gereja Tertua di Indonesia

Tinggalkan komentar