Gereja Kariye Turki Resmi Diubah Menjadi Masjid

Pada momen yang bersejarah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meresmikan perubahan status Gereja Kariye dari gereja menjadi masjid.

Langkah ini menandai sebuah keputusan monumental yang memicu beragam respons dari berbagai kalangan, baik di Turki maupun di seluruh dunia.

Gereja St. Savour, atau yang dikenal juga sebagai Gereja Kariye, telah menjadi saksi bisu dari pergantian zaman dan peradaban di Istanbul, Turki.

Terletak di dekat tembok kuno kota ini, bangunan megah ini telah mengalami transformasi yang mencolok pada bulan-bulan terakhir, menandai sebuah babak baru dalam sejarahnya yang kaya akan perubahan.

Sebagai bagian dari kebijakan pengembangan budaya dan agama, keputusan ini merupakan kelanjutan dari langkah serupa yang diambil pada tahun 2020, ketika Hagia Sophia, sebuah ikon arsitektur dan sejarah dunia yang tak ternilai harganya, juga diubah menjadi masjid.

Gereja Kariye memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan budaya Istanbul. Dulunya dikenal sebagai Konstantinopel, kota ini adalah ibukota megah Kekaisaran Bizantium, yang menjadikannya pusat kekuatan politik, ekonomi, dan agama.

Bangunan tersebut, yang berdiri megah sejak abad ke-11 hingga ke-12, adalah saksi bisu dari perjalanan sejarah kota yang beragam.

Salah satu daya tarik utama Gereja Kariye adalah kekayaan seni dan arsitektur yang terdapat di dalamnya. Lukisan-lukisan dinding yang memukau dan mozaik-mozaik yang mengagumkan telah menarik perhatian para pelancong dan sejarawan seni dari seluruh dunia.

Keindahan dan kekayaan detail yang dimiliki oleh bangunan ini telah membuatnya menjadi salah satu situs bersejarah yang paling penting di kawasan tersebut.

Selama berabad-abad, Gereja Kariye telah mengalami berbagai transformasi. Setelah jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-15, bangunan ini diubah menjadi masjid, mencerminkan perubahan agama yang terjadi di kota ini.

Namun, pada tahun 1945, setelah berfungsi sebagai masjid selama beberapa abad, Gereja Kariye diubah menjadi museum, menandai langkah signifikan dalam melindungi warisan budaya Istanbul.

Tetapi, keputusan untuk mengubah status Gereja Kariye kembali menjadi masjid telah memicu kontroversi yang mendalam.

Sejumlah kalangan menyambut langkah ini sebagai upaya untuk memperkuat identitas Turki yang kental dengan agama Islam.

Beberapa pihak menyatakan bahwa pengubahan status Gereja Kariye menjadi masjid adalah langkah yang tepat, mengingat mayoritas penduduk Turki memeluk agama Islam.

Mereka menegaskan bahwa pembukaan masjid di tempat-tempat bersejarah ini memungkinkan umat Muslim untuk lebih dekat dengan akar sejarah dan budaya mereka.

Tentu saja semua keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak dan untuk tetap menghormati nilai-nilai pluralisme dan toleransi yang menjadi landasan bagi masyarakat yang beragam ini.

Di tengah sorotan dunia yang tertuju pada Turki, Presiden Erdogan mempertahankan langkah-langkahnya dengan tegas.

Perubahan status Gereja Kariye menjadi masjid adalah langkah yang tepat dalam menjaga dan memperkuat identitas Turki yang kaya akan sejarah dan kebudayaan Islam.

Meskipun Gereja Kariye kini telah menjadi masjid, sejarah dan keindahannya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kota yang begitu kaya akan warisan budaya dan spiritual ini.

Dengan segala kontroversi dan perdebatan yang menyertainya, satu hal yang pasti adalah bahwa Gereja Kariye akan terus menjadi simbol dari keragaman dan kompleksitas Turki yang terus berkembang.

Tinggalkan komentar