3 Pendeta Raih Gelar Doktor Sosiologi dari UKSW Salatiga

Suasana kebanggaan dan keceriaan menyelimuti Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Sebab terdapat tiga pendeta yang mendapat pencapaian membanggakan.

Sebanyak tiga pendeta yang merupakan bagian integral dari komunitas gereja meraih gelar Doktor Sosiologi Agama (DSA) dengan predikat terpuji alias cumlaude dalam sidang yudisium yang diselenggarakan di kampus tersebut.

Prof. Ps. Sonny Eli Zaluchu, Pdt. Hendrika Yovania Karubaba, dan Pdt. Erna Maria Ayal adalah para pendeta yang berhasil menyelesaikan perjalanan akademis mereka dengan gemilang.

Sidang yudisium dipimpin oleh Dekan Fakultas Teologi, Pdt. Izak Lattu, yang didampingi oleh Wakil Dekan, Pdt. Irene Ludji, Ketua Program Studi (Kaprodi) Doktor Sosiologi Agama, Dr. Suwarto, dan promotor mereka, Pdt. Dr. Tony Tampake.

Prof. Ps. Sonny Zaluchu, salah satu dari tiga pendeta tersebut, menjelaskan isi disertasinya yang berjudul “Agama Digital (Digital Religion) dan Rekonstruksi Praktik Beragama: Analisis Systematic Literature Review (SLR)”.

Penelitian mendalamnya mengungkap tentang esensi agama digital, pergeseran makna dalam konteks tersebut, serta praktik-praktik ibadah daring yang semakin menguat di era digital ini.

Dalam disertasinya, Prof. Ps. Sonny Zaluchu mengajukan konsep bahwa agama digital tidak lagi terbatas oleh batas-batas offline dan online. Ia menegaskan bahwa melalui platform digital, praktik-praktik keagamaan dapat meresap ke dalam ruang dan waktu secara simultan, membawa konsep kerajaan Allah yang tak terbatas dalam masyarakat.

Selanjutnya, Pdt. Hendrika Yovania Karubaba juga berhasil menarik perhatian dengan disertasinya yang berjudul “Tamne Yisan Kafase Sebagai Upaya Pendekatan Pendampingan dan Konseling Masyarakat untuk Memberdayakan Perempuan Korban Ketidakadilan Gender di Distrik Arso Kabupaten Keerom – Papua”.

Dalam karya ilmiahnya, Pdt. Karubaba menguraikan pentingnya sinergi dan kemitraan antara perempuan dan laki-laki dalam menangani isu-isu gender dengan memanfaatkan nilai-nilai lokal seperti amne Yisan Kafase yang mewakili persatuan dan pembangunan.

Sementara itu, Pdt. Erna M. Ayal juga menyuguhkan kontribusi akademisnya melalui disertasinya yang berjudul “Sakralitas WAM: Dalam Ritual Imag dari Perspektif Pendampingan dan Konseling Keindonesiaan di Masyarakat Lembah Balim”.

Dalam penelitiannya, Pdt. Ayal membahas tentang bagaimana ritual-ritual dalam masyarakat Lembah Balim memiliki nilai sakral yang dapat dijadikan landasan bagi pendekatan konseling dan pendampingan untuk memperkuat identitas keindonesiaan dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademis ketiga pendeta ini tidak hanya berdampak pada lingkungan akademis, tetapi juga memiliki potensi besar untuk memberikan sumbangan yang signifikan dalam pemahaman dan penerapan nilai-nilai keagamaan serta pemberdayaan gender di masyarakat secara luas.

Diharapkan, gelar Doktor Sosiologi Agama yang mereka peroleh akan menjadi landasan yang kokoh bagi karya-karya mereka yang akan datang dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Tinggalkan komentar